Isra Miraj

Peristiwa Isra Miraj, Sejarah dan Pelajaran Penting

Diposting pada
Mukjizat yang kedua setelah diturunkannya kitab suci Al-Qur'an adalah Isra Miraj. Artikel ini membahas ✓ sejarah ✓ perjalanan dari makkah ke madinah ✓ hikmah
Bagikan artikel ini

Isra Miraj merupakan mukjizat kedua setelah diturunkannya Al-Qur’an, karena itu penting bagi setiap Muslim untuk merenungkan pelajaran dari peristiwa ini. Isra Miraj, menceritakan ketika Nabi Muhammad S.A.W. dibawa dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian diangkat ke surga. Peristiwa ini dipenuhi dengan begitu banyak keajaiban.

Sejarah dan Isra Miraj

Isra Miraj terjadi pada saat Nabi (S.A.W.) menghadapi kesusahan dan rasa sakit yang luar biasa. Kaum Quraisy, yang merupakan suku dan keluarganya, terus menerus mengejek, menghina dan menindas Nabi dan pengikutnya. Apalagi Nabi baru saja menghadapi Tahun Kesedihan (‘Aam al-Huzn), di mana ia kehilangan istri tercinta, Khadijah ra dan pamannya Abu Thalib yang menjadi pelindung dan sekutunya.

Terlepas dari semua beban ini, ketika Nabi S.A.W melakukan perjalanan ke Ta’if untuk menyebarkan  Islam, orang-orang Ta’if menolaknya dengan cara yang paling kejam dengan mengirim anak-anak mereka ke jalan untuk melemparinya dengan batu sampai dia pergi.

Setelah melalui begitu banyak kesedihan dan penderitaan, Nabi Muhammad S.A.W. diberikan hadiah yang benar-benar indah dan menghibur. Dia dibawa ke tempat suci melalui langit dan bertemu dengan Allah S.W.T. Oleh karena itu, salah satu pelajaran terpenting dari Isra Miraj adalah bahwa dari setiap kesulitan akan ada kemudahan seperti yang terkadung dalam Al-Qur’an Surat Al-Insyirah Ayat 5 yang berbunyi.

Gambar QS. Al-Insyirah ayat 5

Surat Al-Insyirah Ayat 5 arab:

فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا

Surat Al-Insyirah Ayat 5 latin:

Fa inna ma'al usri yusra.

Arti surat Al-Insyirah Ayat 5:

Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.

Perjalanan dari Makkah ke Madinah

Ketika Nabi sedang tidur di rumah Ummu Hani (ra) di Mekah dia berkata, ‘atap rumahku dibuka dan Malaikat Jibril turun’. Para ulama mengatakan bahwa Nabi kemudian dibawa ke Hijr, dinding setengah lingkaran Ka’bah, kemudian Nabi S.A.W. bersabda bahwa Jibril (as), ‘membuka dadaku, dan membasuhnya dengan air Zamzam. Kemudian dia membawa nampan emas berisi hikmah dan keyakinan, dan setelah menuangkan isinya ke dadaku, dia menutupnya. (H.R.Bukhori).

Nabi S.A.W. melanjutkan, ‘Saya kemudian diambil oleh seekor binatang putih yang disebut al-Buraq, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal. Langkahnya sejauh mata memandang’. (HR Muslim). Akhirnya Rasulullah S.A.W. tiba di kota suci Al-Quds (Yerusalem). Beberapa riwayat menunjukkan bahwa Nabi SAW shalat dua rakaat untuk menyambut masjid (yang dikenal sebagai shalat Tahiyyatul Masjid). Ini adalah salah satu contoh pertama dari Sunnah Nabi yang dilembagakan.

Peristiwa Isra Miraj menunjukkan pentingnya Baitul-Maqdis bagi umat Islam. Di Baitul-Maqdis Rasulullah SAW memimpin semua Nabi Allah dalam shalat, dari sana ia melanjutkan perjalanannya menggunakan Buraq ke tujuh langit. Baitul-Maqdis ini adalah kiblat pertama bagi umat Islam dan situs tersuci ketiga. Sekitar 100 sahabat Nabi Muhammad S.A.W. dimakamkan di sekitarnya.

Jadi, penting bagi umat Islam dalam memperingati peristiwa Isra Miraj tidak hanya merayakannya saja, tetapi juga mengamalkan amalan Sunnah dan menyerap pelajaran dari peristiwa tersebut.

Isra Miraj

4 Hikmah Mukjizat dari Isra’ Mi’raj

Perjalanan kenaikan Nabi Muhammad S.A.W. ke surga ini dikenal sebagai Mi’raj. Peristiwa ajaib yang sangat penting bagi umat Islam ini diyakini telah terjadi di bulan Rajab. Isra’ adalah perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsha di Yerusalem. Mi’raj adalah perjalanan dari Masjid Al-Aqsha menuju surga.

Peristiwa Isra Miraj ini berdampak langsung pada kehidupan kita sehari-hari sebagai umat Islam di mana Nabi Muhammad S.A.W. memerintahkan para pengikutnya untuk mendirikan shalat lima waktu, yang pada dasarnya membentuk Rukun Islam.

Di luar perintah untuk mendirikan shalat, ada beberapa pelajaran penting lainnya yang dapat kita pelajari dari peristiwa Isra Miraj ini:

Percaya Pada Kemungkinan Dari Sesuatu Yang Tidak Mungkin

Peristiwa itu sendiri secara fisik tidak mungkin, di luar imajinasi orang-orang pada waktu itu. Bahkan saat ini, perjalanan dari Makkah ke Yerusalem memakan waktu lebih dari 2 jam dengan pesawat! Dan dibutuhkan lebih dari satu hari untuk melakukan perjalanan ke luar angkasa. Kisah Isra’ Mi’raj mungkin terdengar fiktif. Namun, kita perlu meyakininya dengan hati bahwa itu mungkin karena Allah S.W.T. disebutkan dalam Al-Qur’an tentang peristiwa untuk menunjukkan sebagai bagian dari tanda-tanda-Nya:

“Maha Suci Dia yang membawa Hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, untuk menunjukkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Surah Al-Isra’ ayat 1

Isra Miraj adalah perjalanan spiritualitas di mana kita harus percaya kepada Allah, janji Allah dan melihat sekilas apa yang Allah kendalikan dan apa yang ada di luar tempat tinggal kita.

Hal ini juga mencerminkan indahnya memiliki niat yang murni dan berusaha keras. Kita perlu memiliki niat yang murni dalam melakukan yang terbaik untuk umat manusia dan tidak hanya untuk pemenuhan diri. Allah S.W.T. disebutkan dalam Al-Qur’an tentang berjuang keras dalam melakukan yang terbaik, dan juga memiliki niat murni untuk berjuang untuk yang terbaik:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki suatu kaum sakit, maka tidak ada penolaknya. Dan tidak ada bagi mereka selain Dia pelindung apapun.” Surah Ar-Rad ayat 11

Disetiap Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

Perjalanan Isra Miraj terjadi setelah periode waktu yang disebut ‘Tahun Kesedihan’. Itu adalah tahun di mana paman Nabi Muhammad S.A.W. Abu Thalib dan istri tercintanya, Siti Khadijah r.a. wafat. Ini juga tahun ketika Nabi Muhammad S.A.W. berangkat ke Thaif dengan tujuan berdakwah pada masyarakat thaif untuk menerima pesannya. Namun, Nabi Muhammad S.A.W. ditolak dan orang-orang Thaif mengganggunya dan melemparkan batu ke arahnya sebagai tanda tidak menyambutnya.

Lelah, diusir dan terluka, keimanan Nabi Muhammad S.A.W. kepada Allah tidak pernah goyah, meski tantangannya tak tertahankan. Alih-alih membalas dendam, dia berdoa bukan hanya untuk orang-orang Thaif tetapi juga keturunan mereka. Allah S.W.T. kemudian menghadiahinya dengan perjalanan luar biasa ini yang dirangkum dengan sempurna dalam Al-Qur’an:

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Surah al-Insyrah: 5-6

Allah SWT. membawa Nabi Muhammad S.A.W. ke hadirat-Nya untuk menguatkan dan mempersiapkannya menghadapi fase menantang kenabiannya. Allah S.W.T. menunjukkan kekuasaan dan perintah-Nya kepada Nabi Muhammad S.A.W., setelah itu Nabi Muhammad S.A.W. kembali ke bumi dengan lebih tenang dan lebih bersandar kepada Allah S.W.T.

Persahabatan Sejati dan Keyakinan Yang Tak Tergoyahkan Satu Sama Lain

Sehari setelah Isra’ dan Mi’raj, Nabi Muhammad S.A.W. menceritakan kisah itu kepada sepupunya Ummu Hani. Dia terkejut dan memberi tahu Nabi Muhammad S.A.W. untuk tidak memberitahu orang lain karena mereka tidak akan percaya padanya. Nabi Muhammad S.A.W. meninggalkan rumah dan pergi ke Abu Jahal untuk menceritakan kisah perjalanannya. Abu Jahal mengajak penduduk Makkah untuk mendengarkan kisah Nabi Muhammad S.A.W. Orang-orang kaget dan tidak percaya dengan ceritanya.

Beberapa dari mereka pergi ke Abu Bakar r.a. dan mengatakan kepadanya bahwa Nabi Muhammad S.A.W. mengklaim bahwa ia pergi ke Masjid Al-Aqsa dan melakukan shalat di sana, dan kembali ke Mekah dalam satu malam. Orang-orang berasumsi bahwa Abu Bakar r.a. akan memberikan reaksi yang sama dan meninggalkan Nabi Muhammad S.A.W.

Namun, setelah mendengar itu, Abu Bakar r.a. langsung berkata, “Saya percaya”. Dia tidak mempertanyakan Nabi Muhammad S.A.W. atau ragu apakah dia mengatakan yang sebenarnya.

Abu Bakar r.a. mengetahui kepribadian dan karakter Nabi S.A.W. yang sebenarnya sebagai Al-Amin, Yang Dapat Dipercaya. Sifat-sifat Nabi Muhammad S.A.W. terangkum dengan baik dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya telah ada bagimu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi siapa saja yang berharap kepada Allah dan Hari Akhir dan (yang) banyak mengingat Allah.” Surah Ahzab ayat 21

Begitu indah persahabatan mereka. Abu Bakar menunjukkan kepada kita apa artinya menjadi teman sejati dan bagaimana memiliki Iman (keyakinan) kepada Allah dan Rasul-Nya, bahkan dengan kata-kata tanpa menyaksikannya dengan matanya.

Diturunkannya Kewajiban Sholat 5 Waktu

Sholat lima waktu adalah salah satu karunia dari Allah S.W.T. kepada kita. Perintah kepada umat Islam biasanya disampaikan kepada Nabi Muhammad S.A.W. melalui Jibril. Namun, sholat wajib lima waktu sangat penting sehingga Nabi Muhammad S.A.W. diangkat ke surga untuk berbicara kepada Allah secara langsung.

Ketika pertama kali bertemu Allah S.W.T. Dia memerintahkan agar umat Islam berdoa lima puluh kali sehari. Namun, Nabi Musa a.s. menasehatinya untuk bernegosiasi untuk mengurangi jumlah shalat dalam sehari. Nabi Muhammad S.A.W. kembali kepada Allah S.W.T. untuk berunding beberapa kali sebelum jumlah shalat dikurangi menjadi lima kali dalam sehari tetapi dengan pahala shalat 50 kali sehari. Proses negosiasi mencerminkan rahmat Allah dan cinta Nabi Muhammad S.A.W. kepada kita yang juga tercermin dalam hadits ini:

“Ketika saya kembali kepada Musa, dia berkata, ‘Apa yang diperintahkan kepadamu?’ Saya menjawab, ‘Saya telah diperintahkan untuk melaksanakan shalat lima waktu sehari. tidak diragukan lagi, saya telah mendapatkan pengalaman dari orang-orang sebelum Anda, dan saya telah mencoba tingkat terbaik saya dengan Bani Israel, jadi kembalilah kepada Allah dan minta pengurangan untuk mengurangi beban pengikut Anda.’ Saya berkata, ‘Saya telah meminta demikian. sebagian besar dari Allah sehingga saya merasa malu, tetapi saya puas sekarang dan menyerah pada Perintah Allah.’ Ketika saya pergi, saya mendengar suara yang mengatakan, ‘Saya telah melewati Perintah-Ku dan telah meringankan beban para penyembah-Ku. Shahih Al-Bukhari

Keajaiban perjalanan Isra Miraj memang memiliki pelajaran penting yang relevan dan tepat waktu untuk kita internalisasikan dan amalkan. Pelajaran ini juga menunjukkan kemurahan dan kasih sayang Allah yang tak terbatas kepada semua ciptaan-Nya.

Allah menghendaki bagi kita kemudahan dan bukan kesulitan. Dia tidak berusaha membebani hambanya. Sholat wajib kita setiap hari dimaksudkan untuk memberi manfaat bagi kita dan bukan Allah. sholat itu adalah kontak dan komunikasi langsung kita dengan-Nya. Dari 24 jam setiap hari, kita hanya diminta untuk menyisihkan beberapa menit sepanjang hari untuk fokus hanya pada Allah. Bayangkan harus sholat 50 kali sehari. Apakah kita bisa melakukannya?

Penutup

Semoga Allah mengizinkan kita semua untuk miliki Istiqamah serta menuntun dapat menuntun kita yang berasal dari dosa menuju ke jalan ampunan. Dari kegelapan menuju cahaya. Dari kekhawatiran menjadi amanah. Demikian ulasan mengenai sejarah dan pelajaran penting dari peristiwa isra miraj yang bisa penulis sampaikan, dan penulis juga berharap semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.