hadits tentang memuliakan tamu dan tetangga

Etika, Cara dan Hadits Tentang Memuliakan Tamu dan Tetangga

Diposting pada
Bagaimana cara terbaik dalam memuliakan tamu? membahas ✓ etika dalam bertamu menurut islam ✓ cara memuliakan tamu ✓ hadits tentang memuliakan tamu dan tetangga
Bagikan artikel ini

Hadits tentang memuliakan tamu dan tetangga – Islam merupakan salah satu agama yang di muliakan oleh Allah SWT. Dalam ajaran agama Islam, tidak hanya membahas mengenai cara beribadah kepada Tuhan saja. Bahkan dalam menjamu sesama muslim lain, sudah di jabarkan dalam hadits tentang memuliakan tamu dan tetangga seperti yang tertuang dibawah ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Artinya: “Barangsiapa (manusia) beriman kepda Allah serta Hari Akhir, maka hendaklah dia mampu berkata yang baik atau lebih baik diam, dan barang siapa (manusia) yang beriman hanya kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia bisa memuliakan tetangganya, dan hendaklah bisa memuliakan tamunya.”

Lantas bagaimana cara terbaik dalam memuliakan tamu dalam ajaran Islam yang baik dan benar? Di bawah ini akan dibahas secara lengkap tentang etika dalam bertamu menurut islam, hingga ajaran memuliakan tamu ketika kita menjadi tuan rumah.

Etika Dalam Bertamu Menurut Islam

لاَ تَأتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَلَكِنَّ أئتُوْهَا مِنْ جَوَانَبِهَا فَاسْتَأْذِنُوا٬ فَإِنْ أَذِنَ لَكُمْ فَادْخُلُوا وَإلاَّ فَارْجِعُوا٠

Artinya : “Janganlah kalian mendatangi rumah (orang) dari depan pintunya, tapi datangilah dari samping-samping. Lantas ijin. Jika kalian diberi ijin, masuklah. Namun jika tidak, pulanglah.” (HR. Tabrani)

Dalam siratan hadits tentang memuliakan tamu dan tetangga dari HR. Tabrani tersebut dijelaskan, Nabi selalu berpesan setiap tamu harus memiliki etika ketika mengunjungi seseorang. Di mana seorang tamu memang dilarang untuk menghadap langsung di depan pintu rumah. Sangat dikawatirkan pihak tamu akan memandang seluruh isi rumah karena hal ini merupakan perbuatan yang tidak pantas.

Bisa saja pihak tuan rumah sedang berpakaian yang kurang pantas ataupun harus mempersiapkan diri untuk menyambut tamu. Kemudian etika yang kedua adalah meminta izin dengan cara mengetuk pintu rumah atau memecat. Apabila tidak diizinkan untuk masuk, sebaiknya tamu dengan sabar dan ikhlas harus pulang sesuai permintaan tuan rumah.

  • Etika ketika bertamu sesuai dengan anjuran Islam antara lain:
  • Meminta izin terlebih dahulu untuk masuk maksimal tiga kali kepada pemilik rumah.
  • Berusaha untuk berpakaian pantas dan rapi ketika bertamu.
  • Selalu memberikan isyarat serta salam ketika datang ke rumah orang.
  • Jangan langsung mengintip kesemua bagian dalam rumah.
  • Memperkenalkan diri untuk segi keamanan dan bentuk penghormatan kepada tuan rumah.
  • Apabila tamu lelaki dilarang masuk ke dalam rumah ketika bertamu ke rumah wanita.
  • Ketika duduk di kursi tamu harus sopan.
  • Menerima semua jamuan dari pihak tuan rumah dengan setengah hati.
  • Mengambil makanan dan minuman memakai tangan kanan dan tidak memilih.
  • Setelah urusan selesai langsung pulang.

Untuk point nomor 4 selalu memberikan salam dan isyarat ketika hendak datang ke rumah orang lain ini sesuai dengan sabda Nabi sesuai hadits tentang memuliakan tamu dan tetangga seperti dibawah ini:

اِنَّ رَجُلاً اِسْتَأْذَنَ عَلى النَّبِيِّ ص م وَ هُوَ فِى بَيْتٍ فَقَالَ : “اَلِجُ” فَقَالَ النَّبِيُّ ص م لِجَادِمِهِ : اُخْرُجْ اِلَى هَذَا فَعَلِّمْهُ الاِسْتِأْذَانَ فَقَلَ لَهُ : قُلْ “السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ اَ اَدْخُلْ” فَسَمِعَهُ الرِّجَلْ فَقُلْ “السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ اَ اَدْخُلْ” فَاَذِنَ النَّبِيُّ ص م قَدْ دَخَلَ (رواه ابو داود)

Artinya: “Bahwasanya seorang laki-laki meminta izin ke rumah Nabi Muhammad SAW sedangkan beliau ada di dalam rumah. Ucapnya: Bolehkah aku masuk? Kemudian Nabi SAW bersabda ke pembantunya: temuilah orang itu dan ajarkan kepadanya minta izin dan katakan kepadanya agar dia mengucapkan “Assalmu alikum, bolehkah aku masuk” lelaki itu mendengar apa yang diajarkan nabi, lalu ia berkata “Assalmu alikum, bolehkah aku masuk?” Nabi SAW memberi izin kepadanya maka masuklah dia.” (HR Abu Daud)

hadits tentang memuliakan tamu dan tetangga

Cara-Cara dan Hadits Tentang Memuliakan Tamu dan Tetangga

Jika ingin mendapatkan ridha dari Allah SWT hendaknya umat islam harus bisa memberikan yang terbaik bagi tamunya sesuai hadits tentang memuliakan tamu dan tetangga dalam anjuran Islam. Cara memuliakan tamu menurut islam yang mengunjungi rumah kita, antara lain:

  • Sangat disunnahkan untuk mengucapkan selamat datang terhadap semua tamu yang berkunjung di rumah. Hal tersebut tertuang dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ketika utusan Abi Qais mengunjungi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sesuai dengan hadits tentang memuliakan tamu dan tetangga. Beliau kemudian bersabda, “Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal”. (HR Bukhari)
  • Untuk menghormati tamu sebaiknya menghidangkan minuman atau makanan secukupnya semampunya saja. Tetapi lebih baik menghidangkan makanan yang layak untuk disantap oleh tamu. Allah SWT berfirman sesuai kisah Nabi Ibrahim AS ketika menjamu tamunya, “Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian dia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu Nabi Ibrahim) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?” (QS. Az-Zariyat: 26-27)
Gambar Surat Az-Zariyat ayat 26
Gambar Surat Az-Zariyat ayat 27
  • Selalu mendahulukan tamu yang usianya lebih tua dibandingkan kamu yang berusia lebih muda. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda, “Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.” (HR Bukhari di kitab Adabul Mufrad) dimana didalamnya mengandung perintah untuk selalu menghormati orang yang lebih tua.
  • Jangan segera mengangkat hidangan apabila tamu belum selesai menikmatinya.
  • Adab terbaik ketika memberi hidangan yaitu selalu mengajak mereka berbincang dengan pembahasan yang selalu menyenangkan. Tidak akan pergi tidur sebelum mereka pamit, selalu menganggap kamu sebagai orang yang membawa kebahagiaan, memasang muka manis ketika menyambut tamu, dan selalu merasa kehilangan ketika tamu berpamitan pulang.
  • Ketika melakukan perjamuan tamu, harus sesuai dengan anjuran Rasulullah. Hal tersebut tertuang dalam hadits tentang memuliakan tamu dan tetangga berbunyi, “Menjamu tamu merupakan tiga hari, adapun cara memuliakannya sehari semalam dan tak halal bagi seorang muslim tinggal di tempat saudaranya, sehingga ia berniat menyakitinya.” Para sahabat berucap: “Ya Rasulullah, bagaimana cara  menyakitinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berucap: “Sang tamu tinggal bersamanya, sedangkan dia tidak mempunyai apa-apa untuk disajikan ke tamunya.”
  • Sama sekali tidak memberikan waktu khusus untuk mengundang tamu yang berasal dari kalangan orang kaya saja, sedangkan tidak ingin mengundang orang dalam golongan miskin, dimana hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berbunyi,”Sejelek-jelek makanan merupakan makanan walimah di mana orang-orang kayanya yang diundang sedangkan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR Bukhari Muslim)
  • Hal terbaik ketika tamu pulang yaitu mengantarkannya sampai di depan rumah.
  • Ketika menghidangkan makanan selalu mendekatkan setiap hidangan ke meja terdekat tamu.
  • Untuk menghormati para tamu sebaiknya mempercepat untuk segera menghidangkan makanan ataupun minuman.
  • Setidaknya setiap pelayanan sudah diniatkan untuk memberikan jaminan kegembiraan kepada para tamu sesama muslim.

Kesimpulan

Cara bertamu yang baik mampu menumbuhkan toleransi kepada orang lain serta menjauhkan diri dari sikap tekanan, intimidasi dan kesalahan sikap ketika orang lain berkunjung ke rumah kita. Dengan bertamu maka seseorang akan semakin bisa menyesuaikan keadaan dengan orang lain, menjalin persahabatan dan kerjasama secara Islami. Sehingga Kamu akan menjadi insani yang lebih bermartabat dihadapan orang lain.

Demikianlah etika, cara dan hadits tentang memuliakan tamu dan tetangga sesuai dengan ajaran agama Islam. Penulis dari martabattujuh.com berharap semoga dengan semua penjelasan yang sudah tertuang di atas, Kamu akan lebih memahami tentang bagaimana bertamu yang baik dan juga langkah untuk memuliakan tamu saat mengunjungi rumah kita.