hadits tentang berbohong

Pengertian, Penjabaran Al Qur’an dan Hadits Tentang Berbohong

Diposting pada
Didalam agama Islam, orang yang suka berbohong digolongkan sebagai orang yang munafik. Membahas ✓ pengertian ✓ penjabaran Al-Qur'an ✓ hadits tentang berbohong
Bagikan artikel ini

Berbohong menjadi salah satu sifat yang dibenci oleh Allah SWT. Bahkan didalam agama Islam, orang yang suka berbohong akan digolongkan sebagai orang yang munafik. Lalu berbohong dalam kebaikan apakah berdosa? Dalam kesempatan ini akan dibahas lengkap sejumlah kandungan Al Qur’an dan Hadits tentang berbohong secara lengkap.

Pengertian Berbohong

Bohong atau dalam penyebutannya kebohongan bisa dikatakan kepalsuan yang sengaja di buat oleh seseorang ke orang lainnya. Banyak yang berpendapat jika pokok dari kebohongan seseorang ditimbulkan karena dia ingin dianggap baik di mata banyak orang. Demi menjaga reputasi dan rahasia dia sendiri, makanya usaha mengelabuhi orang lain dipilihnya.

Pada hadits tentang berbohong dituliskan HR Bukhari dan Muslim berbunyi:

Hadits tentang berbohong arab:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: Tanda orang munafik tiga; apabila berkata ia berbohong, apabila berjanji mengingkari, dan bila dipercaya mengkhianati.”

Hal ini bisa disimpulkan jika salah satu tanda orang munafik dalam pandangan agama Islam dia adalah orang yang suka berbohong dalam lisannya.

Kebohongan yang sering dilakukan seseorang dalam kehidupannya dikategorikan menjadi beberapa hal, diantaranya:

Berdusta

Berdusta merupakan sikap yang biasanya cenderung menyesatkan. Dimana dalam islam jika seseorang sudah berdusta maka dia sudah berbohong dalam level tertinggi. Tujuan utama berdusta adalah melawan kebenaran yang sesungguhnya dan niatanya adalah untuk menyesatkan orang lain. Hal ini tertuang dalam hadits yang diriwayatkan oleh HR. Tabrani berbunyi:

Hadits tentang berdusta arab:

فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ بنيَ لَهُ بَيْتٌ فِي جَهَنَّمَ

Artinya: “Barangsiapa berdusta atas namaku, maka akan dibangunkan baginya rumah di (neraka) Jahannam.”

Rekayasa

Rekayasa atau bisa disebut dengan manipulasi merupakan hal yang mengarahkan orang lain kepada keuntungan pribadi. Sifatnya mengelabuhi sehingga hal ini akan membuat orang lain merugi sedangkan yang melakukannya akan mendapatkan keuntungan.

Fitnah

Fitnah atau umpatan merupakan unsur lain dari kebohongan. Yang mana sifat ini dikategorikan jahat karena hanya membenarkan dirinya sendiri. Jika terus dilakukan maka akan membawa kebencian kepada orang lain demi menutupi keburukan sendiri.

Penjabaran Ayat Al Qur’an Tentang Berbohong

Berbohong bukanlah suatu perkara yang kecil, tentunya akan selalu ada konsekuensi dari hal tersebut dan ini hal tersebut selalu ada dalam watak manusia. Sebelum masuk ke pembahasan hadits tentang berbohong kita bahas terlebih dahulu dari dalam Al-Qur’an.

Di dalam Al-Qur’an sendiri pun terdapat banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang dusta atau berbohong. Namun disini penulis akan jabarkan 3 ayat Al-Qur’an tentang berbohong seperti dibawah ini.

Gambar QS. An-Nahl ayat 105

Ayat Al-Qur’an tentang berbohong dari surat An-Nahl ayat 105

Surat An-Nahl ayat 105 arab:

اِنَّمَا يَفۡتَرِى الۡـكَذِبَ الَّذِيۡنَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ‌ۚ وَاُولٰۤٮِٕكَ هُمُ الۡكٰذِبُوۡنَ

Surat An-Nahl ayat 105 latin:

Innamaa yaftaril kazibal laziina laa yu'minuuna bi Aayaatil laahi wa ulaaa'ika humul kaazibuun.

Arti surat An-Nahl ayat 105:

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong.

Ayat Al-Qur’an tentang berbohong dari surat Al-Baqarah ayat 10

Surat Al-Baqarah ayat 10 arab:

فِىۡ قُلُوۡبِهِمۡ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًا ‌ۚ وَّلَهُمۡ عَذَابٌ اَلِيۡمٌۙۢ بِمَا كَانُوۡا يَكۡذِبُوۡنَ

Surat Al-Baqarah ayat 10 latin:

Fii quluubihim mara dun fazzdahumullaahu maradan wa lahum 'azaabun aliimum bimaa kaanuu yakzibuun.

Arti surat Al-Baqarah ayat 10:

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta.

Ayat Al-Qur’an tentang berbohong dari surat Ali-Imran ayat 61

Surat Ali-Imran ayat 61 arab:

فَمَنۡ حَآجَّكَ فِيۡهِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَكَ مِنَ الۡعِلۡمِ فَقُلۡ تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَاَبۡنَآءَكُمۡ وَنِسَآءَنَا وَنِسَآءَكُمۡ وَاَنۡفُسَنَا وَاَنۡفُسَكُمۡ ثُمَّ نَبۡتَهِلۡ فَنَجۡعَل لَّعۡنَتَ اللّٰهِ عَلَى الۡكٰذِبِيۡنَ

Surat Ali-Imran ayat 61 latin:

Faman haaajjaka fiihi mim ba’di maa jaaa’aka minal ‘ilmi faqul ta’aalaw nad’u abnaaa’anaa wa abnaaa’akum wa nisaaa’anaa wa nisaaa’akum wa anfusanaa wa anfusakum summa nabtahil fanaj’al la’natal laahi ‘alal kaazibiin.

Arti surat Ali-Imran ayat 61:

Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istrimu, kami sendiri dan kamu juga, kemudian marilah kita ber-mubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Hadits Tentang Berbohong

hadits tentang berbohong

Ada beberapa hadits tentang berbohong dan mengharamkan sifat tersebut. Namun ada juga potongan ayat dan hadits yang memperbolehkan seseorang harus terpaksa berbohong. Inilah sejumlah hadits yang dituliskan oleh para ulama.

HR Bukahari, Muslim, Al Baihaqi, At Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Hiban menjelaskan dalam sebuah hadits seperti dibawah ini.

Hadits tentang berbohong arab:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Arti dari hadits tersebut:

Hendaklah kalian harus selalu berbuat jujur, karena sebuah kejujuran akan membawa pada kebaikan, dan kebaikan bisa mengantarkan ke Surga. Dan jika seorang selalu berbuat jujur dan terus memilih jujur, maka Allâh akan mencatatanya sebagai orang jujur. Dan jauhilah dari perbuatan dusta (berbohong), karena dusta akan membawa seseorang ke perbuatan jahat, dan kejahatan akan mengantarkan seseorang menuju ke Neraka. Dan apabila seseorang terus berdusta dan memilih jalan kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai seorang pendusta.

Dalam hadits tentang berbohong diatas dapat dijabarkan jika Nabi Muhammad SAW memerintahkan jika semua orang untuk selalu berbuat jujur. Karena dengan berbuat jujur maka kebaikan akan menghampiri mereka dan kebaikan ini akan membawa semua orang ke jalur Surga yang dijanjikan Allah SWT.

Hal berbeda akan didapatkan seseorang jika selalu berbohong dalam kehidupannya. Seseorang akan selalu memiliki sifat jahat dan kejahatan yang sudah dijalankannya akan membawanya ke Neraka. Allah SWT pun akan mencatat pendusta sebagai pembohong besar. Akan sulit baginya mencium bau surga.

Meski hanya ingin bercanda, kebohongan juga harus dihindari seseorang muslim. Hal ini dituliskan pada hadits yang diriwayatkan oleh HR Abu Dawud seperti dibawah ini.

Hadits tentang berbohong arab:

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Arti dari hadits tersebut:

Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berniat berdusta (bohong) agar suatu kaum tertawa karenanya. Celakalah untuknya. Kecelakaan untuknya.

Hadits diatas menegaskan jika bercanda dalam bentuk ancaman masuk dalam perbuatan dosa. Sehingga agama islam sangat melarang perbuatan apapun yang mengandung kebohongan meski niatnya hanya sekedar bercanda. Hal ini ada kaitannya dengan hak seseorang sesuai pandangan agama.

Ibnul Qayim pernah menuliskan jika berdusta meski bercanda akan memunculkan salah paham diantara banyak orang. Hal ini jika berlanjut akan menimbulkan permusuhan. Sehingga untuk menutup celah hal-hal yang tidak diinginkan itu maka Islam kemudian melarang semua kebohongan meski dalam kondisi bercanda.

Hadits tentang berbohong arab:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Arti dari hadits tersebut:

Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya.

Dalam hadits tentang berbohong yang diriwayatkan oleh HR. Abu Dawud diatas menjelaskan jika Islam melarang dan juga ada keutamaan meski mereka hanya berbohong dalam kondisi bercanda. Namun jaminan yang akan ditawarkan adalah celaka.

Adapun sebaliknya, apabila seseorang meninggalkan perbuatan dan perkataan yang berbau dusta ketika bercanda maka Nabi Muhammad SAW akan memberikan jaminan sebuah rumah di tengah surga. Ada fadhilah besar secara tidak langsung didapatkan oleh orang yang selalu menjauhi kebohongan dalam sikapnya.

Hadits Tentang Berbohong dalam Kebaikan

Tidak semua perbuatan berbohong dilarang oleh agama Islam. Ada 3 hal yang diberikan keringanan ketika seseorang harus berkata bohong dihadapan orang lain. Hadits tentang berbohong yang diriwayatkan oleh HR. ABu Dawud yang dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani berbunyi,

لَا أَعُدُّهُ كَاذِبًا، الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ، يَقُولُ: الْقَوْلَ وَلَا يُرِيدُ بِهِ إِلَّا الْإِصْلَاحَ، وَالرَّجُلُ يَقُولُ: فِي الْحَرْبِ، وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ، وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا

Arti dari hadits tersebut:

Tidaklah termasuk bohong: Jika seseorang (berbohong) untuk mendamaikan di antara manusia, dia mengatakan suatu perkataan yang tidaklah dia maksudkan kecuali hanya untuk mengadakan perdamaian (perbaikan), Seseorang yang berbohong ketika dalam peperangan; dan Seorang suami yang berkata kepada istri dan istri yang berkata kepada suami.

Dalam penjelasan hadits tentang berbohong diatas, dapat disampaikan jika ada 3 hal yang diperbolehkan untuk berbohong, yaitu:

  • Berbohong dalam rencana mendamaikan sesama saudara dari sebuah perselisihan dan pertikaian.
  • Berbohong ketika terjadi peperangan. Karena dalam sebuah peperangan berbohong merupakan salah satu siasat untuk membuat gentar musuh sehingga diperbolehkan.
  • Perkataan antara suami dan istri diperbolehkan dibumbui kebohongan. Karena pada intinya tersebut bisa saling menjaga keintiman. Sejumlah rayuan tentu saja akan semakin membuat hubungan penuh dengan cinta kasih di dalam rumah tangga.

Penutup

Demikianlah ulasan mengenai pengertian dan penjabaran hadits tentang berbohong di dalam agama Islam. Semoga dengan semua ulasan di atas kamu semakin lebih bisa menjaga sikap dan perkataan untuk tidak memiliki niat berbohong kepada orang lain.